#DEYSCUSSION: How I got freelance jobs without a CV

8:07 AM


(I have prepared an intro so please bear with me)

I remember why I started this blog. So let me remind myself again that this blog happened because I love to share. Dan belakangan ini gue ngerasa gue pengen cerita ke lebih banyak orang. Gue pengen nyerocosin lebih banyak orang. Hence, this new blogpost, finally after a year--AND THE NEW HASHTAG! Whoo.


(Throwback to me, 2015 working full time job as Lifestyle Writer at FashionTV Magazine)


Tapi dua tahun belakang ini gue sama sekali gak sempet nulis. Wew apakah ini hanya excuse? Wallahu a'lam. Sekarang, di suatu Kamis malam di Nitro Coffee, di tengah ke-hectic-an gue dan tim nyiapin Argo Muria Festival with Andien Metamorfosa, ditengah chaos-nya We The Fest kami yang pertama, dan 3 hari menjelang hitung mundur launching video musik Warna-warna, gue sempetin untuk duduk, mengetikkan isi hati gue ke kalian semua. Hello, yang lagi baca!

Jadi, ngobrol apa malam ini? Gue udah coret-coretin semua topik yang bakal gue kulik di blog ini. Tapi, satu-satu yaa! Yang pertama, mungkin kita bisa bahas tentang everybody's question, the mega FAQ: how I got my freelance jobs. But, I'm gonna spill more hacks with you; how I got those jobs without a CV. 

Ceritanya, kemaren gue lagi buka hiring untuk Junior Content Creator buat masuk di tim gue. Terus, gue liat, kok CV-CV orang nggak ada yang bikin gue sreg yaa. Bukan pengalamannya, bukan juga tentang skill mereka. Tapi lebih ke penempatan, penulisan, dan info-info yang mereka masukin di CV mereka. Banyak yang gak relevan, banyak yang gak up-to-date, banyak yang nggak lengkap, dan gue gak bisa 'kepo'-in karya atau personality atau passion mereka di sosmed. Padahal kan CV adalah satu-satunya cara atau media dimana orang bisa menilai lo, sebelum ke tahap interview. Dari yang gue liat, ada yang masukin pendidikan dari mulai TK sampe kuliah, tapi malah lupa untuk masukin skill yang mereka punya sekarang. Dalem hati gue, “Yaa, nggak perlu lah gue tau lo TK dimana. Gue butuh tau, lo bisa Adobe Photoshop nggak? Taste lo untuk konten visual kayak apa. Gue bahkan nggak peduli kalau anak ini bukan lulusan S1 dari kampus bertaraf internasional.” –kasarnya begitu, hehe.

Lalu, gue jadi kepo sama CV gue. Jangan-jangan CV gue juga gak sesuai ekspektasi para rekruiter. Jadilah gue mengubek-ubek CV (yang ternyata udah gak ada file aslinya di laptop). Gue harus ubek-ubek Sent Items di email. There I found it.

The heck. Ternyata, terakhir kali gue update CV gue adalah 2 tahun lalu. Padahal dalam 2 tahun ini, gue udah gonta-ganti kerjaan 7 kali. How did this happen?

I stopped applying for a full time job since 2016.

Gue baru inget, terakhir kali gue kerja full time adalah tahun 2016, yaitu di Cottonink, salah satu leading fashion local brand di Indonesia, sebagai Web Content Editor—in which I resigned from a couple of months later. Jadi, dari 2016 sampai 2018, gue kerja freelance. And how did I land these freelance jobs without an updated CV, or even without it?

I let people find me.

Salah satu buku sakti yang gue pegang teguh dalam hal ini adalah buku ‘Show Your Work!’ karya Austin Kleon. Hey, my holy bible right here! 



Di buku itu dijelasin kenapa penting banget buat kita untuk menunjukkan karya-karya kita di media online. Iya, penting lho ternyata. Gue juga baru mudengnya ya setelah gue merasakan sendiri satu-satunya cara biar orang ‘menemukan’ gue adalah lewat online. Terutama karena gue memantapkan berkarya di jalur freelance. Beda yah kalo kita pengen kerja full time, kita apply ya pake CV. Kalau freelance, we don't even know those jobs exist until they knock on our door. Dari pengalaman gue, semua kerjaan freelance yang gue lakukan selama ini kalo nggak ditawarin, di-DM orang di Instagram, atau diajak temen gabung projek. Yang biasanya berakhir dengan repeat order, hehehe Alhamdu? Kayaknya hampir nggak ada kerjaan freelance yang gue apply sendiri, simply cause I don't know the demands.

So now, let's talk about letting people find us. I let people see what I'm good at. Fotografi kah? Copywriting kah? Ilustrasi kah? I also let people notice my passion. Kalau kalian, kira-kira passion-nya apa? Fashion kah? Traveling kah? Beauty kah? Semua itu dipajang di online portfolio. Nggak perlu repot-repot punya blog, atau website resmi. I just use what I have, Instagram. We all have Instagram, right? Great, now you can do too!

Dijelasin juga di buku itu kenapa orang lebih tertarik melihat ‘proses’ ketimbang ‘hasil jadi’. Orang tuh kepo—kalo menurut bukunya yaa. Orang pengen tau gimana sesuatu terjadi. Makanya kenapa artis-artis besar, gak usah bingung, sebut aja Taylor Swift, misalnya buat konser dia yang terakhir, dia sampe bikin 13 Days Pre-tour Updates. Setiap hari dia bikin instastory, nothing with fancy editing, cuma dia ngomong ke kamera, ngasih tau update persiapan konsernya. Day 1, ngomongin stage design. Day 2, ngomongin backing vocal. Day 3, ngomongin ruang ganti. Gila, kalo dipikir-pikir, penting banget gue tau ruang gantinya Tay Tay kayak apa. Yet, kepo! Cara itu berhasil bikin gue engage ke konsernya dan merasa menjadi bagian dari acara tersebut. Jadi nunggu-nungguin banget. It’s eventually a sold out show. Kudos to her (and her brilliant digital team :p)


Ini gue kasih link videonya barangkali ada yang kemaren kelewat: https://www.youtube.com/playlist?list=PL_k4boKW9cVc1Ta_3si7z2mqSuXfa26_-

So, sampe mana yaa tadi...

Oh, oke. So, let's show our works! Terutama buat temen-temen fresh grad yang sering nanya ke gue, “Kak, gimana sih biar bisa kerja kayak kakak?” Atau temen-temen seangkatan yang sering nanya, “Gue butuh uang jajan tambahan nih. Gue nyari side job dimana ya?” Awal mulanya cuma satu: we have to let ourself reachable first.

Then, build your branding.

Gue dulu bingung banget ini apaan sih, kok kayaknya advance banget. Sekarang, oh nggak seribet itu kok ternyata. Menurut gue, personal branding itu konsepnya sama kayak jualan. Dalam konteks ini, yang mau kita jual adalah kita dan skill yang kita punya. Tujuannya supaya orang nyamperin kita dan nawarin kerja. Setuju yaa? Setuju yaa? Jadi, gimana biar itu bisa terjadi? Set up 'toko'-nya dulu dong biar kita bisa menjajakan 'barang dagangan' kita. 

Tokonya mesti kece, unik dan beda dari yang lain. Semakin spesifik dan punya keunikan, klien akan lebih mudah attract ke elo. I usually start by answering these questions:

  1. Who am I?
  2. What am I good at?
  3. What kind of work I want to do?
  4. What type of clients I want to work for?
  5. What's separates me from others? Or my competitors?
Kalo lo juga udah bisa jawab itu semua, lo juga pasti udah bisa memutuskan konten-konten apa yang HARUS ada di toko (Instagram) lo.

Let’s take me again as example!

  1. Who am I? I’m former writer, and a content creator.
  2. What am I good at? (ini kayak semacam: Lo jualan apa sih?) I can do photography, videography, basic video editing, advance photo editing, basic layout, copywriting, and social media management. I well-curate my Instagram feed. Oh, and I can write well both in Bahasa and English.
  3. What kind of work I want to do? I want to create anything that pleases the eyes: photo or video. I want to create content. And I want to use my writing skills.
  4. What type of clients I want to work for? Fashion brands are awesome! But I want to try my luck in other industry that I haven’t dipped my feet into. Music, perhaps?
  5. What's separates me from others? Or my competitors? I can do everything: photo, video, edit my own footages, layout them, write about them, and the business behind creative industry. I'm the woman behind the gun. If you hire me, I can do the dirty works or I can be the leader of your creative team cause I know a lot about production.
Nah! Dari situ gue bisa meramu konten-konten yang harus ada di Instagram gue, supaya klien-klien itu bisa nemuin gue dengan mudah, atau supaya temen-temen gue tau specialty gue (jadi kalo suatu hari nanti bos mereka ada yang nanya, “Eh, lo ada kenalan Content Creator dan Copywriter nggak?” nama gue bisa jadi top of mind) adalah:


  • Karya fotografi gue
  • Karya videografi gue
  • Karya tulisan gue (bisa berupa caption sehari-hari, atau blogpost gue)
  • Konten instastory yang unik
  • Terus menjaga feed gue dengan tone yang sama dan rapi
  • Dan misalnya, karena gue pengen nyicipin industri musik, gue bisa pamerin selera musik gue ke instastory, atau even better, upload aja video gue lagi main keyboard dengan skill pas-pasan itu ke Instagram!
After years and years, Alhamdulillah, ternyata formula itu bisa gue pake untuk 'ngejual' diri gue sebagai content creator, social media manager dan copywriter. I was offered freelance jobs without have to speak a word about myself, because my online portfolio speaks for me. They help me attract clients to me.

Oh boy, it didn’t happen overnight though :')

Oh yaa, sekarang sih gue ngerasainnya lebih dari sisi klien. Sering banget gue disuruh sama klien untuk, "Dey, cariin dong illustrator kece di Instagram. Cari yang masih emerging, karena pasti ide-idenya masih fresh tuh!" -- Nah lho. Bayangin kalo gak ada illustrator yang rajin ngupload karya-karyanya di Instagram, atau di website mereka. Gimana gue bisa nemuin mereka? Trust me, the demands are high! So, be there, be online! 

To sum up that unbelievably long talk, here goes my final conclusions:
  1. Building an online portfolio is important if you want pursue a digital career (full time job, or freelance)
  2. Stick with what excites you! Semakin kita passionate sama satu hal spesifik, akan semakin nyaman kita mengerjakannya dan nggak akan jadi beban. Gue juga ngerjain sosmed gue tanpa beban, dibawa hepi aja. Sampe tiba-tiba sosmed @deyfitria itu ‘menjadi CV’ gue untuk ngerjain sosmed @maudyayunda dan @andienaisyah. Who the hell knows? :')
  3. Perjalanannya panjang. Tapi, yakinlah usaha yang 100% pasti akan membuahkan hasil. Yakinlah kalau nggak ada usaha yang sia-sia. Keliatannya gampang yaa, bikin Instagram, upload portfolio, terus dapet kerjaan. Yaa, nggak sesimple itu juga. Ada sederet hal lainnya yang gue lakukan diluar ini semua yang mendekatkan gue ke opportunity. Tapi boleh dibilang ini adalah salah satunya dan yang paling krusial. (#SPOILER: Mau tau hal keduanya? Networking. We’ll talk about it some other day, okay?)

Lastly. This is me talking from my very personal experience. This is me simply sharing what I have been doing for years. Take what you think is good, leave what’s not. I also didn't say that this is the ultimate guide, a failed-proof, or me trying to preach, or brag. I solely want to answers some of the FAQs people ask me. And if I have an experience in that, why don't I share it with you?

SIDE NOTE: Some people use Instagram just for fun. And there's nothing's wrong with that! I wish I could do that too. But now I happen to work in the digital industry so I have to (eventually) use Instagram for business too.

Thanks for sticking around and reaching the end of this post! Til next time

Xx,
Dey



  • Share:

You Might Also Like

0 Comments