#DEYSCUSSION: Things I gain the minute I started working as a freelancer

11:07 AM

Sebenernya kalo ditotal, gue kerja freelance udah dari tahun 2015. Awalnya kerja full time sambil punya freelance side job. Eh, lama-lama resign dari kerjaan full time dan menseriuskan jadi freelancer.





Well, hari ini gue akan share: 8 things I gain the minute I started working as a freelance worker.


  1. Gue jadi terbiasa melihat deadline kerjaan melalui kacamata timeline. Semua harus jelas alurnya. Dari awal terima brief > proses produksi butuh berapa lama > draft pertama, feedback dan revisi berapa lama > sampai final delivery. Kalau dari klien nggak jelas, gimana caranya gue bikin itu jelas buat diri gue sendiri. Gue harus punya sistem. Karena ini akan sangat berpengaruh ke time management gue dipos-pos lainnya, kayak pembagian kapan harus kerja, kapan bisa self-time, olahraga, dan yang pasti, ke pembagian waktu jatah buat ngerjain kerjaan lain yang gue ambil disaat yang bersamaan. Percaya deh, ketika lo kerja freelance, godaannya cuma 1: godaan untuk santai-santai dan menunda kerjaan. After all, you have no working hours! Gila, tempting banget kan buat marathon How To Get Away With Murder?
  2. To do list adalah kunci. I honestly can't function without to-do-list. Semua harus dicatet. Sekecil apapun task-nya; 'Ke Snapy ngeprint props shooting', 'Email Mba Client ingetin tentang feedback konten', 'Bikin bit.ly link Youtube yang udah tayang', 'Revert konten Youtube jadi IGTV'. Namanya juga juggling between jobs, kalo gak dicatet, dijamin messed up. Lagian, satisfying banget pas nge-cross off task yang udah kelar!
  3. People's management. Freelance harus siap ketemu lebih banyak orang, lebih banyak jenis klien, lebih banyak jenis vendor. Ini skill yang dulu gue gak punya. Boro-boro punya, I tended to avoid people. Maklum, bukan people's person kalau masalah kerjaan (that's why I'm more into creative works rather than marketing ones). Tapi, once lo udah terjun di freelance, harus siap untuk punya 2 switch button: PEOPLE'S MODE & CREATIVE'S MODE
  4. Jadi ngerti sedikit banyak tentang perusahaan. You are your own company. Lo HRD, Marketing, Creative, Production dan Finance buat diri lo sendiri. Kan yang ngurusin office work elo (segala perjanjian kerja, surat menyurat, kontrak), yang jualan skill elo, yang nyari klien elo, yang ngerjain produksinya elo, yang ngurusin invoice buat gajian elo, yang ngurus pajak elo juga. Setidaknya, harus ngerti basic-basicnya tuh.
  5. Maintaining professionalism. Nah ini, interesting fact: akan gede banget godaannya kerja freelance karena gak kerasa kayak kerja; kayak 'maen', but it’s a job anyway. Kenapa gue bilang kayak maen? Ya gimana, bangun siang, kerja bisa dari atas kasur, kadang bisa sambil kabur bentar ke Bali, bawa modem terus buka laptop di pinggir pantai. Kadang lo dapet job bikin konten di acara konser musik. Gila, is that even a job? It's fun! Nah biasanya yang udah lebih banyak rasa 'fun'-nya ketimbang 'pressure'-nya, kita jadi take it for granted. Lupa kalo ada tanggung jawab juga didalemnya. Padahal, people always expect 100% of us. Makanya kalo gue bilang sih maintaining professionalism when you work freelance has its own challenge. Eh ada fun fact juga: SOMEHOW, clients expect full-time-job results from us freelance worker. Apakah ini mitos? Hmm, jangan suudzon.
  6. Lebih menghargai sebuah karya. Dulu, kalo ada billboard di pinggir tol yang menurut gue gak bagus, gue pasti akan langsung ngebahas sama peer gue. Sekarang, gue bisa lebih menghargai sekecil atau sebesar apapun karya yang gue temuin, apapun bentuknya. Karena kok gue ngerasa senasib sepenanggungan yaa sama orang-orang dibalik karya itu. Pasti, ini pasti ya, dibalik 1 karya (bagus atau biasa aja) ada tim yang, ibaratnya, sampe diare-diare ngerjain itu. Direvisi berkali-kali, diombang-ambing brief yang nggak jelas, dilempar sana-sini. Apalagi kalo karyanya bagus. Aduh, itu udah pasti direvisinya lebih berkali-kali lagi. Hormat grak buat tim hebat dibalik karya-karya hebat.
  7. Multitasking without losing focus. Boong sih kalo gue udah bisa master skill ini sepenuhnya. Sama sekali belom. What I'm gonna say is working as freelance could be a good place to start gaining focus. Especially when you juggle between jobs. Dijamin. Pedes.
  8. Terakhir, lebih mengerti bisnis karena udah ngeliat dari dua sisi. Dulu gue kerja di majalah, nyicipin sedikit part kerja di TV juga pernah. Kerja di brand beauty dan fashion pernah. Kerjasama bareng vendor PH film, talent agency, digital agency, jadi talent (wkwk), jadi vendor juga pernah. Sekarang lagi kerja bareng public figure YANG kerjasama sama itu semua (majalah, TV, beauty, fashion brand, PH film, agensi iklan, dll). Perspektif gue jadi semakin kaya. Gue jadi lebih tau cara handle klien karena gue juga pernah kerja di client side. Nge-handle vendor, PH dan agensi juga jadi lebih berani (eh?) karena tau sistem kerja mereka yang sebenernya. Maksudnya, udah tau celahnya. It's good to try both worlds, biar semakin terbuka wawasannya. 

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments