#DEYSCUSSION: Bikin konten yang engagement-nya tinggi

5:16 AM



Kemarin gue buka pertanyaan di instastory buat minta saran kira-kira topik apa yang pengen kalian bahas. Ada satu yang menarik, “Gimana caranya bikin konten yang engaging?”, ditanyakan oleh Mbak Galuh (thank you Mba!)

Pasti udah banyak buku, website atau seminar yang bahas tema ini. Pembicaranya atau penulisnya juga pasti certified dan mumpuni, jagoan dibidang sosial media dan digital business. Tapi kali ini, pertanyaannya ditujukan buat gue. Jadi, boleh yaa gue jawab dengan versi gue?

DISCLAIMER: Dengan membahas tema ini, bukan berarti gue udah berhasil dan selalu menghasilkan konten-konten terbaik yang engagement-nya tinggi. I'm an observer, and constantly learn about it.

Dan, sebelum gue jawab, gue mau ngingetin ke kalian bahwa gue yang menuliskan postingan blog ini bukan Dey sebagai pemilik akun @deyfitria, tapi Dey seorang content creator dibalik akun @andienaisyah, (former) @maudyayunda, dan @oemahetnik. Gue yang sekarang lagi ngetik ini adalah pelaku pembuat konten yang berbasis bisnis dan branding. Khusus buat topik ini, akun @deyfitria jangan dijadiin patokan yes! Itu mah iseng-isenganku saja :))

Sepakat? Kalau sepakat, markimul!

Know you who are.

Elo siapa sih? Make up artist? Penyanyi? Illustrator? DJ? Ballet dancer? Pilot? Digital marketer? Fashion designer? Semua orang pasti punya ‘julukan’ buat dirinya sendiri. Julukan ini bisa beda banget sama ‘profesi’ yang lo jalanin. Misalnya day-to-day-job lo adalah Video Producer, tapi kalo weekend lo ngejalanin hobi lo sebagai 'tukang makeup keliling' (hehe, halo kak @andaws!). Then you can call yourself a Make-up Artist. We can call ourself whatever we want. But remember, how we perceive ourself is how others will see us. 

Let's take @mariodelano for example (permisi Mas-nya). Gue gak kenal Mario, gak pernah ketemu, tapi kami saling follow di Instagram udah cukup lama. Selama ngikutin kiprahnya berkarier (hadeuh) di dunia Instagram, gue bisa menyimpulkan beberapa hal tanpa Mario harus ngasih tau gue: Mario adalah penyiar radio (tapi sepertinya sekarang udah cabut dari radio, monmaap Mar boleh bantu bisikin gak sih?), passion-nya adalah musik, olahraga dan fotografi, dia juga content creator khususnya di channel instastory. Nah kalo sampe gue bisa tau begini, padahal dia gak pernah ngasih tau gue, berarti dia udah berhasil ngejalanin personal branding buat dirinya sendiri. Klik link ini buat baca lebih lengkap karena gue udah bahas tentang personal branding di postingan sebelumnya.

Tapi, sebenernya ada banyak Mario-Mario di dunia ini. Ada ratusan penyiar radio yang passion-nya musik dan olahraga dan yang bisa bikin konten. Tapi, kenapa yang gue follow di Instagram (atau yang top of mind) cuma Mario?

Find your uniqueness.

Itu jawabannya. Bosen yaa dengernya? Temukan ciri khas diri lo. Temukan ciri khas karya lo. Katanya semakin distinctive, semakin bagus. Ada benernya juga sih. Tapi yang kadang kita sering lupa adalah: keunikan tuh gak melulu harus sesuatu yang BEDA banget dari yang orang-orang lakuin. Nggak perlu lah ketika semua orang hitam, lo tiba-tiba hologram sendiri. Itu bagus. Itu ekstrem. Gak usah terlalu ekstrem dulu. Yang simpel-simpel aja. Unik itu sesederhana: ketika semua orang hitam, lo hitam tapi ada nuansa abu-abunya dikit. It’s still different, right?

Nah, kalo dimasukin ke konteks konten, gimana caranya menciptakan/menemukan keunikan dari diri lo? Tau @evachen212 kan? (Wew bukan Wiro Sableng kak). Fashion blogger yang terkenal dengan pose selonjoran di back seat uber setiap hari. Nah itu unik tuh! Ketika semua fashion blogger foto OOTD berdiri, atau di depan tempat wisata, atau di dalam coffee shop, atau di depan kaca, Eva malah ngelakuinnya di dalam mobil.



RUMUS (hadeuh rumus)
-     - Hitam = foto OOTD
-     - Semua orang hitam = semua orang foto OOTD
-     - Eva Chen hitam dengan aksen abu-abu = Eva Chen foto OOTD di dalam mobil (antimainstream)

Simple kan?

Bad news-nya, gue nggak bisa ngasih tau gimana caranya menemukan keunikan itu. Itu PR kita masing-masing, PR gue.. PR elo.. PR kita semua. Karena yang tau siapa diri lo dan kesenengan lo adalah lo sendiri. Tapi percayalah dizaman yang udah serba gak orijinal ini, masih bisa kok kita temuin hal-hal yang beda. Meskipun bukan sesuatu yang baru, tapi pasti masih ada yang bisa kita ‘recreate’, ‘reinvent’.. Sering-sering aja nonton Youtube, browse Pinterest, liat Instagram, ngobrol sama orang atau temen, dan cek orang lain lagi bikin apa sih. Brand lain lagi bikin apa. Cek deh ke sesama temen atau influencer yang passion dan kontennya mirip-mirip sama kita. Apa yang dia punya dan kita juga punya. Apa yang dia punya, tapi kita gak punya. Apa yang dia gak punya, nah kita bikin deh!Dan buruan, keburu idenya dilakuin orang lain.

Tujuan riset: 1) to stay in trend, 2) to stay out of trend.

Stay in trend: supaya kita tau apa yang lagi laris dan disukain orang. Stay out of trend: yaa supaya kita bisa temuin keunikan kita. Do the opposite. Add our own ideas into what’s trending. Ibaratnya, semua orang bisa bikin konten flatlay kopi. Apa yang bikin foto flatlay kopi lo beda? (Nah silahkan dicari jawabannya, coba dicoret-coret di notebook deh!)

Oke, in conclusion dari dua point di atas, kenapa gue lebih milih untuk follow @mariodelano dari penyiar-penyiar lain adalah karena dia unik. Uniknya apa? Karena selalu ngasih konten-konten 'instastory rasa radio' (his words, not mine) yang kreatif dan unik banget treatment-nya! Dia selalu ngajak followers buat ‘diskusi’ tentang musik bareng, khususnya di instastory. Entah sesimple: #IniLaguDari #LiriknyaAdalah atau pertanyaan-pertanyaan sepele kayak: “Sebutkan satu lagu apa yang jadi mood booster lo?"



Nah kalo @evachen212 gue suka karena konten selonjoran itu kayak a breath of fresh air diantara semua foto OOTD mainstream di timeline Instagram gue. Otomatis gue akan nunggu-nungguin Eva akan posting apa lagi, karena yang bikin kayak gitu ya dia doang.

Nah kan, udah keceplosan tuh spoiler buat point ketiga dan keempat, yaitu: Let people involve dan konsistensi.

Tapi, bersambung ke postingan berikutnya yaa! (Biar dikata bikin penasaran aja kayak cliffhanger-nya How To Get Away With Murder season 3 episode 9. Hiks)

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments